"INGAT PEMILU PRESIDEN, RABU, 09 Juli 2014, GUNAKAN HAK PILIH ANDA DENGAN BAIK DAN BIJAK"

Berita


Aura Ketuhanan terasa kental menyelimuti ketika seseorang  beribadah di sebuah masjid tua seperti di Mesjid JAAH Tenggarong ini. - Joe
Aura Ketuhanan terasa kental menyelimuti ketika seseorang beribadah di sebuah masjid tua seperti di Mesjid JAAH Tenggarong ini.

137 Tahun Sudah Usia Mesjid JAAH

Bangunan Mesjid JAAH  tegar berdiri walau usianya kini sudah mencapai se abad lebih - Joe Bangunan Mesjid JAAH tegar berdiri walau usianya kini sudah mencapai se abad lebih

TENGGARONG – Bangunan monumental yang masih tersisa dan memiliki nilai sejarah penting bagi umat muslim kota Tenggarong Kutai Kartanegara adalah Mesjid Jami Aji Amir Hasanoeddin (JAAH). Sebagai tempat fasilitas umum yang kini berusia 137 tahun, tampaknya fisik masjid itu patut diteliti ulang kelayakan bangunan oleh ahlinya.  Karena ada beberapa struktur penting bangunan perlu diganti dan diperbaiki. Adakah diantara umat peduli agar Rumah Tuhan ini tidak runtuh dimakan usia.


Bulan ini Mesjid JAAH berusia 137 tahun, dibangun akhir abad 19 tepatnya Maret 1874 dilakukan pemancangan Tiang Guru (Utama-red) oleh Sultan Kutai XVII Aji Muhammad Sulaiman (AMS). Sedang pekerjaan pembangunannya termasuk pengadaan material masjid dilakukan secara swadaya umat muslim kota Tenggarong pada saat itu. Di bawah bimbingan intensif para Pemuka Islam dan dukungan Sultan akhirnya cikal bakal bangunan Mesjid JAAH dapat digunakan berbagai kegiatan termasuk ibadah dalam kurun waktu sekitar 2 tahun kemudian.

Ketua Ta’mir (Pengurus) Mesjid JAAH H Masud Ahmad Wiranata SSos MM ditemui usai solat Jumat (25/3) kemarin mengatakan Mesjid JAAH pernah mengalami renovasi atau pemugaran untuk pertama kali yaitu pada tahun 1929. Pemugaran itu dilakukan karena bangunan yang dibuat tahun 1874 itu bentuknya masih sangat sederhana tidak terlihat seperti pada saat ini. Pemrakarsanya adalah Al Haji Aji Amir Hasanuddin Gelar Aji Pangeran Sostro Negoro dibantu Penghulu Kesultanan Sayyid Saggaf Baraqbah Gelar Aji Raden Sukmo sebagai Penggalang Dana Pembangunan Masjid. Dari hasil renovasi itu maka terwujudlah bangunan Mesjid JAAH seperti yang kita saksikan saat ini. ”Jadi bangunan Mesjid JAAH yang berdiri saat ini adalah hasil renovasi tahun 1929,” ujarnya.

Menurutnya pemilik sah Mesjid JAAH ini adalah umat islam kota Tenggarong bukan milik individu seseorang atau sekelompok orang karena dari sejarahnya keberadaannya dibangun oleh swadaya masyarakat Tenggarong secara bergotong royong. Jadi umat islam kota Tenggarong harus mampu bertanggung jawab menjaga eksistensi masjid ini sebagai monumental tonggak penyebaran agama islam di Kukar. Hanya saja letaknya berada tidak jauh dari lingkungan Istana Keraton Kesultanan Kutai, sebab kebiasaan istana kesultanan yang mengadopsi islam sebagai agama resmi kesultanan di Nusantara ini selalu di dekatnya ada tempat ibadah seperti masjid. Menyinggung tentang aset Mesjid JAAH menurut Masud AW yang juga Mantan Kabag Kesra Pemkab Kukar dan Dosen Unikarta Tenggarong ini menjelaskan jika dilihat dari sisi penerimaan keuangan maka hingga saat ini kas masjid sudah bisa mengumpulkan dana umat sekitar Rp 120 juta lebih. Uang itu dihimpun dari umat dan jamaah masjid melalui Infaq, Sadaqah dan uang Salawat maupun sumbangan umat pada solat Jumat dan solat lima waktu maupun kegiatan masjid lainnya. Digunakan untuk membiaya operasional masjid seperti air bersih, insentif petugas masjid, biaya kebersihan di dalam dan di halaman masjid serta biaya penggunaan listrik PLN. Sedang bantuan Pemkab Kukar memang ada yaitu melalui Bantuan Sosial (Bansos) Tempat Ibadah, namun tidak setiap tahun diterima. Yang jelas Dana Bansos bukan untuk menggaji pengurus tapi ditujukan bagi menutupi kebutuhan perbaikan sarana dan fasilitas masjid. ”Jajaran pengurus hanya mengabdi dengan niat tulus ikhlas dengan harapan mendapat Ridha dari Allah SWT itu saja,” demikian ujarnya.(joe)